PARU-PARU BASAH BUKAN KARENA OLAH RAGA MALAM

Batuk dan sesak napas menjadi ciri utama gangguan paru-paru yang jenisnya beragam. Mulai dari bronchitis, pleuritis, pneumonia, TBC, asma, hingga PPOK. Bagaimana dengan penyakit “paru-paru basah”, apa penyebabnya masing-masing gangguan dan bagaimana mengatasi seta mencegahnya, bisa disimak pada tulisan berikut ini.

Jangan sering berolah raga atau naik sepeda motor malam-malam. Nanti terkena penyakit “paru-paru basah” baru tahu Kamu!”

Ungkapan bernoda larangan agar tidak melakukan dua kegiatan itu pada malam hari di udara terbuka bukanbarang asing di telinga. Di kepala orang awam seperti kita, hawa malam yang dingin dan lembap itu sering dituding sebagai biang keladi penyakit yang menyerang organ pernapasan, yang dijuluki “paru-paru basah” itu.

Ada dua kesalah kaprahan di sini yang perlu diluruskan. Yang pertama, “Dalam terminology formal kedokteran tidak pernah mengenal istilah penyakit paru-paru basah,” kata dr. Tjandra Yoga Aditama, DSP DTM&H, seorang ahli penyakit paru-paru dari RS Persahabatan Jakarta.
Memang tidak salah betil, hanya kurang tepat. Sebab dalam dunia medis dikenal apa yang disebut dry pleurisy dan wet pleurisy. Pleurisy atau pleuritis adlah peradangan yang menyerang selaput (pleura) yang membungkus paru-paru dan melapisi dinding pada rongga dada (toraks). Yang membungkus paru-paru dinamai selaput viseralis, dan yang melapisi rongga dada selaput parietalis. Di antara kedua selaput terdapat cairan pelumas agar paru-paru dapat leluasa bergoyang sewaktu kita bernapas.

Yang dimaksud oleh awam dengan penyakit “paru-paru basah” itu boleh jadi wet pleurisy atu efusi pleura. Berbeda dengan pleuritis kering. Pleuritis basah ditandai dengan adanya cairan berlebihan yang penyebabnya bisa bermacam-macam. Yang paling sering adalah infeksi kuman TBC, atau parasit. Jadi, bukan akibat kebanyakan terpapar angina malam yang merupakan kesalah kaprahan kedua. Cairan berlebihan yang mengisi selaput itu tentu saja akan mendesak dan mengganggu gerakan paru-paru sehingga orang jadi sesak napas.

Penyebab lain yang lebih serius yaitu kanker selaput paru-paru, gangguan system pembuluh darah paru-paru akibat proses menurunnya kadar albuminm atau perdarahan akibat luka tertusuk misalnya pada bagian dada.

Gejala sungguh tidak mengenakkan karena setiap kali menarik napas. Dada serasa sperti tertusuk pisau. Gejala lain dari penyakit paru-paru akibat infeksi inimisalnya batuk kering, badan lemah, sakit kepala, dan hilang nafsu makan. Kadang-kadang disertai demam dan jantung berdenyut lebih cepat.
Untuk mengatasi sesah napasnya, cairan yang terkumpul diantara kedua selaput itu diambil menggunakan jarum berongga. “Sementara itu penyebabnya diberantas dengan obat-obatan yang tepat melaui suntikan langsung ke lokasi atau diminum,”tutur dr. Tjandra.

Jangan dianggap remeh

Yang dimaksud dengan penyakit “paru-paru basah” bisa juga mnunjuk pada penyakit bronchitis alias radang saluran napas. Penyakit ini sering dianggap temehm, mentang-mentang bukan tergolong penyakit yang mematikan macam penyakit jantung darah tinggi, strike dsb. Karena itu tidak jarang orang “menyayang-nyayang” penyakit radang salurannapas ini dengan tidak segera berobat ke dokter. Biasanya orang pergi ke dokter setelah penyakit dalam keadaan lanjut.

Bronchitis menyerang saluran napas (bronchus), yakni organ yang menghubungkan batang tenggorokan dengan paru-paru. Akibatnya infeksi dan peradangan terbentuklah mucus (dahak). Produksi mucus yang berlebihan ini juga acap menyempitkan dan menghalangi saluran napas sehingga penderita tidak leluasa bernapas.

Bronchitis akut ditandai dengan gejala seperti demam (karena infeksi), serta batuk dan mengi (akibat prosuksi mokus yang berlebihan dan penyempitan saluran napas). Gara-gara infeksi itu pula tenggorokanmenjadi lebih peka terhadap bakteri yang pada gilirannya bisa menebus masuk ke saluran napas. Bronchitis akut bisa terjasi bersamaan dengan flu, batuk berat, campak, atu cacar air. Bisa juga akibat menghirup asap rokok, asap industri, atu gas yang menyebabkan iritasi.

Memang panyakit ini bisa mengancam jiwa anak yang kesehatannya buruk atu orang dewasa yang menderita emfisema atau penyakit jantung. Komplikasi yang penyebab munculnya bronchitis dapat dihindarkan, umumnya gangguanparu-paru ini tidak menjadi berat. Bahkan tidak jarang akan sembuh hanya dalam beberapa minggu.

Namun lain ceritanya dengan bronchitis yang sudah kronis ; batuk dan mengi berlangsung terus selama berbulan-bulan dan berulang setaip tahun. Batuknya terus menerus seperti rapper, dan makin parah waktu pagi serta malam hari. Juga ketika cuaca dingin. Bronchitis kronis hapir selalu dikaitkan dengan perokok berat, juga polusi udara. Penyakit ini biasanya menyerang orang setengah baya dan akan semakin parah kalau tidak segera berobat ke dokter. Dalam hal itu pria empat akli lebih banyak terserang daripada wanita.

Untuk menyembuhkan dan mencegahnya, tentu harus berhenti merokok, kalau anda bekerja dalam lingkungan uang berdebu dan berasap, sebaiknya pindah kerja saja ke lingkungan yang bebas debu atau becuaca lebih hangat. Hindari kelelahan tidurlah di ruangan yang hangat tetapi tidak lebab serta hindari serangan flu.

Pnemonia dan “ pasukan veteran”

Yang lebih berat kalau infeksi mengenai jaringan paru-paru seperti penyakit pneumonia. Ada sekita 30 macam jenis pneumonia akibat infeksi bakteri ini. Diantaranya penmoniacoccal penemonia bronchial penemonia, aspiration pneumonia, stasis penemonia.

Sesuai dengan namanya penemonicoccal penemonia disebabkan oleh bakteri pnemococcus yang sering ditemukan hidup dalam hidung atau tenggorokan. Bakteri itu akan turun menuju paru-paru bila daya tahan tubuh terhadadap infeksi menurun atau sedang menderita selesma yang melemahkan daya tahan paru-paru. Bila infeksi keorgan pernapasan itu terjadi seluruh paru-paru akan penuh dengan mucus dan nanah sehingga udara tidak bisa bebas keluar masuk bagian yang terinfeksi. Celakanya bakteri ini juga memproduksi racun yang mempengaruhi racun yang memperparah penyakitnya. Komplikasi pleuritis bisa terjadi di sini.

Pneumonia jenis ini ditandai dengan gejala demam yang mendadak datangnya dansuhu tubuh bisa melonjak tinggi 39,5-41 derajat celcius. Dada terasa sesak napas pendek-pendek, danbatuk kering yang menyakitkan. Penderita sering mengigau akibat demam. Karena itu pasien harus segera dibawa kedokter sehingga dalam lima hari pasien bakal sembuh. Obat-obatan sulfa dan penisilin biasanya cespleng. Namun strain (keturunan) bakteri yang kebal terhadap obat-obatan tersebut. Bayi dan lansia yang terserang penyakit ini biasanya tak tertolong jiwanya.

Pada bronchial pneumonia terjadi infeksi terhadap bagian-bagian kecil di seluruh paru-paru. Sering kali infeksi berkembang setelah penderita mengalami serangan bronchitis. Namun infeksi tersebut bisa disebabkan oleh banyak kemungkinan seperti jamur, parasit, bakteri, virus, bahan hirupan yang mgiritasi, luka fisik, bahkan akibat pukulan pada bagian dada.

Salah satu tipe pneumonia adalah penyakit legionnaire. Dinamai demikiankarena mula-mula penyakit ini menyerang 182 orang peserta siding legion Amerika di Philadelphia di musim panas tahun1976. tipe ini tidak ditularkan lewat orang per orang, melainkan akibat bakteri yang terkumpul dalam system pendingin ruangan (AC) atau kapala shower (pancuran mandi). Infeksi bisa terjadi kalalu seseorang menhirup bakteri yang terdapat dalam kabut AC atu titik-titik air di udara. Dengan antibiotic eruthromycin penyakit “pasukan veteran” ini bisa tertanggulangi.
Celakanya viral penemonia tidak mempan dihantam dengan antibiotic. Pada awal serangan berjalan labat dengan gejala awal mirip serangan selesma. Namun gangguan ini tidak berakibat fatal. Cukup ditanggulangi dengan banyak istirahat, aspirin, dan obat batuk. Sedangkan oil pneumonia dapat disebabkan oleh bahan-bahan berminyak yang terhidrup. Obat gosok dapat juga menyebabkan penyakit ini seandainya bahan itu tanpa sengaja masuk ke paru-paru.
Tipe aspiration pneumonia sering dialami kaumpamabuk entah akibat minuman beralkohol atau narkotik. Penyakit ini terjadi akibat adanya bahan dari perut yang masuk ke paru-paru ketika penderita sedang muntah-muntah. Jenis ini sering mengancam pasien yang sedang menjalani operasi dengan bius total. Sedangkan stasis pneumonia biasanya menyerang mereka yang terlalu lama terbaring di tempat tidur akibat sakit.

Tubercolisis alias TBC

Meskipun terapi dengan obat-obatan saat ini sudah maju pesat, kuman tubercolisis alias TBC masih menhinggapi banyak orang, sebagian di antaranya berkembang manjadi TBC aktif setiap tahunnya. Gejalanya meliputi demam, berat badan turun, lelah, batuk, meungkin juga batuk berdarah.

Baksil berbentuk batang penyebab TBC ini desebabkan lewat batuk, bensin, dan ludah. Namun paparan singkat terhadap baksil TBC jarang yang menyebabkan seseorang terinfeksi. Karena kalau hanya sekedar memberesi sprei penderita, buku, mebel, atau peralatan makan tidak akan tertular, untuk sampai terinfeksi baksil itu diperlukan kontak yang dekat dan terus-menerus.
Dalam hal ini infeksi tidak selalu berarti menjadi sakit sebab sel darah putih akan datan menggempur bakteri yang masuk. Bila daya tahan tubuh bagus dan bakteri yang masuk tidak terlalu banyak beberapa bakteri akan mati oleh serangan sel darah putih, sedangkan sisa pasukan bakteri yang tinggal sedikit dan dinamai tubercle itu tidak akan berbahaya.

Jutaan manusia hidup dengan tubercle tanpa menjadi sakit. Namun ketika daya tahan tubuh anjlok, entah karena aktivitas fisik yang berlebihan, makanan yang kurang bergizi, atau jatuh sakit, pasukan tubercle akanbangkit, memperbanyak diri, lalu melakukan invasi masuk kebagian-bagian lain dari paru-paru. Pada tahap ini orang masih merasa sehat walafiat, tetapi TBC aktif telah dimulai. Kalau kondisi ini tidak terdeteksi, pasukan bakteri akanbergerilya dan menyebar. Dengan memperbanyak dari artinya mereka menyita ruangan dalam paru-paru sehingga akan melemahkan pernapasan itu.

Obat-obatan anti-TBC yang sekarang tersedia memang mampu menyembuhkan pederita. Tetapi prosesnya memakan waktu lama sekitar sembilan bulan hingga dua sampai eman tahun. Ini karena obat-obatan tersebut hanya mengatasi baksil yang berproduksi. Bahkan ketika TBC aktif terjadi, banyak bakteri dalam fase “tidur”. Pengobatan perlu dilanjutkan selama

berbulan-bulan utnuk menangani bakteri “tidur” ini pada saat mereka mulai menggandakan diri.
Untuk mengatasi TBC biasanya digunakan obat-obatan seperti isionazid, streptomycin, ethambutol, dan rifamoin. Biasanya pemakaian obat tersebut dikombinasikan satu dengan yang lain meningkat ada yang beberapa kebal terhadap obat-obatan tertentu.

Penggunaan obat-obatan selam setahun untuk pencegahan dianjurkan bagi mereka yang mengalami infeksi non aktif. Juga bagi anggota keluarga atau kerabat dekat penderita TBC aktif, serta pada mereka, terutama anak-anak yang hasil ter TBCnya negative.

Tes untuk mengetahui ada tidaknya serangan TBC melalui kulit ( tuberculin skin test) sebaiknya dilkukan beberapa kali sepanjang hidup. Untuk anak –anak dianjurkansebelum usia setahun, vaksin BCG akan sangat membantu mencegah seseorang terjakiti TBC.

Dalam kenyataan sehari-hari. TBC labih banyak menyerang masyarakat golonganekonomi lemah. “Faktor utamanya bukan karena tempat yang lembap atau kumuh tetapi karena mereka rentan terhadap kuman atau bakteri akibat kondisi kesehatan mereka yang buruk,” tutur dr. Tjandra, yang juga wakil direktur penunjang medik dan pendidikanpada RS Persahabatan.

Hindari rokok

Gangguan paru-paru jenis lain di Indonesia seperti asma dan PPOK (penyakit paru-paru obstruktif kronis) lebih banyak diakibatkan polusi udara. Dalam kedua gangguan ini selauran napas menyempit sehingga penderita sesak napas alias mengi mejadi kesulitan bernapas. Keduanya dapat dibedakan melalui test paru-paru tiup. Pada penderita PPOK tetap terlihat adanya gangguan pada sluran napas walaupun diluar serangan, sedangkan pada penderita asma saluran napasnya rampak normal. “Asma bagaikan daun putrid malu: tersenggol sedikit saja saluran napasnya, penderita langsung sesak napas,” tamsil dr Tjandara.
Pengobatan asma dan PPOK membuktikan waktu lebih lama dibandingkandengan gangguan paru-paru akibat kuman. Yang lebih dulu diatasi aalah keluhan atau gejalanya. Kemudian baru penyebabnya, penyembuhan menjadi lebih sulit kalau penderita asam dan PPOK tetap tinggal atau bekerja di lingkungan yang tidak bebas polusi.

Di negar industri maju polusi industru (asbes, kapas, silica, batubara, besi) mendapatkan perhatian. Setiap waktu tingkat polusi debu dan jenisnya dinilai, industri yang bersangkutan akan ditegur apabila tingkat polusi debunya melebihi ketentuan. Parapekerja diwajibkan mengenakan alat pelindung mulut dan hidung selama bekerja. Terhadap mereka dilkukan pemeriksaan badan secara periodic : pemotretan toraks denganpenilaian sesuatu dengan standar ILO, pemeriksaan menyeluruh terhadap tubuh, dan tes paru-paru untuk melihat kemampuan kerja organ pernapasan itu.

Secara umum dampak polusi pabrik di Indonesia belum begitu “merisaukan” mengingat, “usia pabrik-pabrik di Indonesia relative masih muda disamping itu para pekerjanya, menurut penelitian, sering berpindah pekerjaan. Untuk melihat dampak polusi pabrik diperlukan waktu bertahun-tahun. Menurut pengamatan saya, di Indonesia belum banyak ditemukan gangguan paru-paru akibat polusi lingkungan pabrik,”kata dr. Tjandra.

Berbagai gangguan paru-paru rata-rata dibarengi dengan gejala khas, yakni batuk, dan sesak napas. “Karena itu gejala batuk jangan dianggap remah, batuk yang tidak sembuh-sembuh selam dua minggu hendaknya jangan ke didiamkan. Segera periksa ke dokter untuk diteliti penyebabnya.”sarannya. melalui torakoskopi (peneropongan selaput paru-pari dan pengambilan cairan melalui mulut dengan slang kecil) pemeriksaanparu-paru sudah bisa di lakukan.

Dr.Tjandra juga menyarankan untuk menjaga kesehaan peru-paru hindari kebiasaan merokok (60% pria dandibawah 10% wanita Indonesia merokok), ikut pola hidup sehat, menjalani hidup secara teratur, rajin berolahraga, dan mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang.

Sumber : INTISARI (kumpulan artikel kesehatan)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>