Obat Kadaluwarsa

Salah satu petaka yang bisa muncul akibat pemakaian obat, karena sudah rusak maupun kadaluwarsa adalah zat aktif pada obat yang rusak bisa berubah bentuk, bahkan menjadi racun. Sedangkan untuk obat yang kadaluwarsa, aktivitas dan daya sembuhnya akan menurun dan bisa juga obat itu sudah rusak.

Obat kadaluwarsa bukan hanya sekedar bisa berkurang guna dan manfaatnya, tapi akan mendatangkan bahaya. Baik obat kadaluwarsa maupun obat rusak, sama-sama dapat menimbulkan petaka. Untuk mengantisipasi dampak obat kadaluwarsa dan obat rusak, biasakan membeli obat di tempat yang bisa dipercaya.

Batas kadaluwarsa suatu obat ditentukan oleh pabrik pembuatnya. Secara umum untuk melihat suatu obat sudah kadaluwarsa atau belum, perhatikan tanda pada kemasannya. Pada kemasan obat tertentu tercantum batas kadaluwarsa dalam bulan dan tahun. Namun ini pun masih dipengaruhi oleh cara penyimpanannya. Karena itu, bisa saja obat yang pada labelnya layak pakai hingga tahun 2010, tapi ternyata tahun 2009 sudah rusak bila obat itu disimpan di tempat yang kurang baik. Sedangkan untuk melihat apakah rusak atau tidak, perhatikan saja perubahan warna, bau dan bentuknya. Misalnya suatu tablet terlihat berjamur,menguning, retak-retak karena keluar gas, dan baunya makin menyengat. Bila obat itu berbentuk larutan seperti sirup, perhatikan apakah mengkristal, mengering, ataupun memisah. Tapi juga harus diingat bahwa memang ada sediaan cair yang sengaja dibuat dalam bentuk suspensi sehingga memang ada endapannya. Obat yang seperti ini tidak rusak, tapi memang demikian bentuk asli sediaannya.

Obat, baik yang dari apotek dengan resep dokter maupun yang dibeli di toko obat, warung atau kios,disediakan untuk mengatasi keluhan atau menghalau suatu penyakit. Namun kadang muncul juga hal yang tidak diinginkan. Selain penyakitnya tidak kunjung sembuh, sering juga timbul gejala baru. Dalam menghadapi kasus seperti ini, kesadaran untuk segera datang berkonsultasi ke dokter, akan sangat baik sebagai antisipasi keadaan yang lebih buruk.

Bahaya???

Efek negatif dari obat yang telah kadaluwarsa bermacam-macam. Mulai dari berkurang atau hilangnya manfaat, sampai yang bisa membahayakan jiwa konsumen. Antibiotika golongan tetrasiklin, misalnya, selain akan makin menurun potensinya, juga akan bisa berubah menjadi epianhidrotetrasiklin bila sudah kadaluwarsa. Demikian juga bila obat tadi terkena sinar matahari langsung, akan berubah menjadi epianhidrotetrasiklin. Obat yang sudah berubah seperti ini dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal, karena itu tidak dianjurkan untuk dikonsumsi.

Untuk menghindari bahaya akibat obat kadaluwarsa, biasakan membeli obat di tempat resmi seperti apotek. Di apotek, obat yang kadaluwarsa tidak akan dihapus label kadaluwarsanya. Bila sudah kadaluwarsa segera diganti dengan yang baru. Lain halnya jika kita membeli obat di tempat-tempat yang kurang bisa dipertanggungjawabkan, misalnya di kios kecil pinggir jalan. Obat yang sudah lama tak laku, hingga kadaluwarsa pun bisa saja masih dijual. Jalur resmi penyalur obat tidak akan gegabah atau sembrono menjual obat yang telah kadaluwarsa. Sebab, mereka bisa dikenakan sanksi berat bila hal ini dilanggar.

Obat kadaluwarsa yang masih tersisa sebaiknya dimusnahkan atau dikubur, jangan dibuang sembarangan. Itu untuk menghindari agar tidak disalahgunakan oleh anak-anak atau pemulung. Bila disalahgunakan, akibatnya bisa timbul masalah yang lebih fatal. Bila obat yang sudah kadaluwarsa dan bersifat racun itu terlanjur dimakan, maka perlu diberikan pertolongan sebagaimana pada kasus keracunan.misalnya diberi rangsangan agar bisa muntah, atau diberi zat penawar seperti norit atau susu. Kalau perlu, bahkan dokter akan memberikan obat pencuci lambung.

Akibat lain yang ditimbulkan oleh pengunaan obat yang sudah kadaluwarsa,misalnya saja terjadi resistensi. Potensi obat yang digunakan sudah menurun sehinga tak mampu lagi membunuh tuntas mikroba yang ada. Tapi justru mikroba tersebut akan semakin kebal dan tangguh. Penggunaan obat yang sudah rusak juga tidakbegitu banyak bedanya, sama-sama bisa menimbulkan bahaya. misalnya saja pada penderita hipertensi yang selalu minum obat pengendali tekanan darah setiap hari. Bila suatu saat ia minum obat yang dibeli sendiri ternyata sudah rusak, maka kemampuan kerja obat itu bisa hilang atau berkurang.

Akibatnya, penderita mengira tekanan darahnya sudah membaik, padahal justru tidak terkontrol lagi. Dalam kondisi seperti ini, tidak menutup kemungkinan akan terjadi stroke. Karena itu lebih baik bila akan mengkonsumsi obat selalu diperhatikan dulu keadaannya. Apakah masih baik keadaan fisiknya? Tidak lembab, warnanya masih seperti biasa, dan tidak ada perubahan bau? Selain itu, perhatikan juga label kemasannya, jangan-jangan sudah terlewati masa pakainya.

Hal penting lainnya, bila ada obat sisa yang tidak jelas penggunaannya, sebaiknya dibuang saja,. Jangan disimpan lama, apalagi dipakai lagi dengan patokan kira-kira gejalanya sama. Selain belum tentu penyakitnya sama, mungkin obatnya pun sudah rusak. Ini jelas berbahaya.

Obat luar pun berbahaya

Tidak hanya obat dalam (yang dikonsumsi), obat luar seperti salep yang dioleskan di kulit pun, bila sudah kadaluwarsa bisa berdampak negatif. Misalnya salep untuk penyakit kulit, bila sudah kadaluwarsa justru dapat memperparah penyakitnya,misalnya menimbulkan koreng. Hal ini karena salep yang kadaluwarsa bisa ditumbuhi jamur yang justru membahayakan kulit.

Demikian pula salep atau obat tetes mata, bila sudah kadaluwarsa malah dapat membahayakan kesehatan mata. Akibat paling fatal, bisa menyebabkan kebutaan.

Karena itu dalam kemasan obat luar atau salep pun biasanya tertulis label kadaluwarsanya. Jadi jika akan menggunakan obat luar sebaiknya juga dilihat dulu labelnya, untuk mengetahui masih baik digunakan atau tidak.

Jamu, sama saja

Selain obat-obat kimia, yang juga dipercaya untuk mengobati penyakit adalah jamu. Jamu dalam kemasan termasuk obat tradisional yang laris dan mudah diperoleh, bahkan untuk membelinya tidak perlu resep dokter. Yang perlu diperhatikan, sebagaimana halnya dengan obat-obatan kimia, jamu yang biasanya diramu dari bahan-bahan alami (tradisional) itu pun ada masa kadaluwarsanya. Blla sudah kadaluwarsa jamu bisa berjamur, lembab dan serbuknya menggumpal. Tentu saja jamu yang sudah dalam kondisi seperti ini tidak layak dikonsumsi karena bisa membahayakan kesehatan.

Pada kemasan jamu biasanya juga ada label kadaluwarsanya. Karena itu, bila anda membeli jamu,pastikan bahwa jamu yang anda minum belum kadaluwara. Jika ingin minum di tempat (kios jamu), maka sebaiknya anda memeriksa label kemasannnya terlebih dahulu sebelum dituang dalam gelas.

Sumber : Majalah Nikan Vol. 3 No. 12 Maret 2005

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>