Andakah Yang Bisa Menahan Hawa Nafsu?

‘Menarik’ sekali membaca seluruh tulisan2 SPPI, apalagi terkait dengan komentar SPPI dan para pendukung pacaran islami yang berhujung kepada sebuah kesimpulan yang “dahsyat”. Sebelum saya nyatakan kesimpulannya seperti apa, ada baiknya kita lihat komentar2 mereka.

adit berkata “saya normal kok, tapi alhamdulillah bisa jaga syahwat. saya yakin juga banyak yang seperti saya.”

SPPI berkata “Bagi kita sudah jelas, kepada yang cenderung tidak kuat menahan nafsu syahwat, kita berseru: jangan pacaran! Sungguhpun demikian, kita perlu menghargai saudara-saudara kita yang mampu menjaga diri ketika pacaran (termasuk Adit, Az-Zaitun, dan teman-temanku dulu di UGM, IKIP Yogya (skarang UNY), dan IAIN (skarang UIN) Jogja)”

Kaezzar berkata “Waduh, maaf mas…
Masa iya karena mas dulu g kuku nahan nafsu, terus semua org jadi dijustifikasi ngga bakal mampu juga….lha piye iki tho?”

Kira2 3 komentar diatas sudah cukup untuk menunjukkan siapa mereka(baca: SPPI dan para pendukung pacaran islami secara sadar). Mereka adalah orang-orang normal, yang punya syahwat dan mengaku bisa ‘menjaganya’, sehingga untuk itu mereka “MENGKLAIM” bahwa hanya orang2 seperti mereka lah yang boleh melakukan pacaran islami tadi dan meminta semua orang menghargai tindakan mereka. Bagi orang-orang yang cenderung tidak kuat ‘menahan’ nafsu kepada orang2 tersebut, mereka berkata “jangan pacaran!”.

Ini yang saya sebut sebagai kesimpulan yang “dahsyat”. Jadi teringat sebuah ayat, Allah SWT berfirman, “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati” (QS Al Mu’min :19) , terhadap ayat ini Ibnu Abbas RA berkata “Yaitu seorang laki2 yang masuk ke sebuah penghuni rumah (bertamu) yang didalamnya terdapat seorang wanita cantik, atau wanita itu sedang melewatinya. Jika mereka(wanita tadi dan penghuni rumah –ed), dia (laki2 itu) pun menoleh kepada wanita itu dan jika mereka mengawasi, dia pun menahan pandangannya. Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Mengetahui hatinya yang berkeinginan seandainya dia berhasil melihat auratnya” (HR Ibnu Abi Hatim).*

Rasanya tidak perlu pacaran, terkadang dengan ’sengaja’ kita melepaskan pandangan ke arah wanita yang kita ’sukai’ kecantikannya, kemolekan tubuhnya, dan lain-lain. Dan rasanya tidak terlalu sulit menemukan ‘pemandangan’(baca: aurat2 yang diumbar) seperti itu, didalam rumah pun ada melalui TV, Film, Internet dan lain sebagainya. Padahal pandangan mata adalah stimulus utama yang mendorong setiap manusia untuk melakukan zina berikutnya(zina mata -> zina lisan -> zina tangan->zina kaki-> zina hati->dan zina farji/kemaluan). Maha benar Allah SWT dengan firmanNya, dan maha benar sabda Rasulullah SAW. Untuk itu rasulullah SAW bersabda “Setiap anak adam telah ditulis baginya bagian dari zina. Ia pasti melakukannya tanpa bisa dihindari, zina mata adalah memandang, zina lisan adalah berbicara, zina telinga adalah mendengar, zina tangan adalah menggunakannya, zina kaki adalah melangkah, jiwa berharap dan berhasrat, dan kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakannya”(HR Bukhari dan Muslim).

Dan karena itu juga Al Quran sebagai landasan utama sumber hukum dalam Islam, ketika berbicara tentang perintah agar menjauhi zina, maka selalu diawali dengan menjaga pandangan (QS Annur:30 – 31, QS Al Mu’min :19). Karena berawal dari pandangan mata lah perbuatan zina itu terjadi, dan itu bersesuaian dengan sabda rasulullah SAW diatas. Hanya saja sebagian orang mengira bahwa ketika nuraninya tidak terusik dengan pemandangan2 bertabur aurat, maka hal itu dianggap sebagai sebuah pengendalian atas hawa nafsunya. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya yang terjadi adalah, “sense of nurani” mereka untuk mengenali maksiat mata itu telah menjadi lemah, karena seringnya mereka menggunakan mata untuk melihat hal2 yang haram. Begitu juga yang terjadi ketika bersentuhan dengan lawan jenis, setiap laki2 dan wanita yang normal, pada saat pertama kali bersentuhan dengan lawan jenis pasti akan merasakan sesuatu yang mengalir didalam darah, itulah yang dinamakan dengan syahwat. Tetapi ketika kita sering mempraktekkan hal ‘itu’, “sense of nurani” kita untuk mengenali bahwa hal itu adalah syahwat yang berpotensi kepada zina besar pun melemah, dan kita akhirnya tidak ‘merasakan’ apa-apa lagi, celakanya hal ini kita anggap sebagai sebuah ‘keberhasilan’ atas pengendalian hawa nafsu kita, na’udzubillah.

Perkara merasa diri sudah bisa menjaga hawa nafsu itu, biarlah Allah SWT yang menjadi Saksi yang Maha Adil terhadap hal itu, tetapi perkara mendekati zina adalah perkara yang tidak mungkin bisa dihindari oleh setiap anak adam. Yang pasti bagi mereka yang tidak berpacaran, potensi ke arah itu semakin sempit, dan bagi mereka yang berpacaran, potensi ke arah itu semakin terbuka, itulah keyakinan yang pasti berdasarkan dalil2 yang kuat. Sebagai penutup mari kita berdoa, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. (QS Al Imran : 8) Aamiin, wallahu’alam wastaghfirullah li walakum

*Terjemahan tafsir Ibnu Katsir

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>